TEMPO.CO, Malang - Lima mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, meneliti pemanfaatan getah taman biduri sebagai bahan baku utama detergen ramah lingkungan. Tanaman biduri merupakan sejenis tanaman semak liar yang tumbuh di lahan kering dan pantai.
Padahal, menurut ketua tim peneliti, Devy Setyana, ada zat di dalam getah biduri yang mampu menggantikan alkylbenzene sulfonate (ABS) dan linear alkylbenzene alkylsulfonate (LAS). "Kedua zat aktif surfaktan atau surface active agent pada produk pembersih detergen ini dianggap mencemari lingkungan, sampai menyebabkan kematian pada biota laut," kata Devy, Kamis, 14 Agustus 2014.
Tak hanya mematikan biota laut, Devy menjelaskan, kandungan ABS dan LAS pada detergen berdampak buruk bagi kesehatan manusia, karena menghasilkan residu yang masuk ke dalam tubuh dan bisa menimbulkan iritasi kulit. "Untuk itu, harus ada detergen alternatif yang ramah lingkungan," kata mahasiswa Jurusan Teknik Industri Pertanian angkatan 2010 ini.
Bersama Sugiyati Ningrum, Anggi Nurvianti, Nur Oktavia Suci, dan Muhammad Arham, dia meneliti kegunaan getah biduri dan mengolahnya menjadi detergen alami bernama "Bio-Nano Surf" sepanjang Februari-Juli 2014. Mereka dibimbing Endrika Widyastuti, dosen sekaligus Ketua Program Studi Bioteknologi FTP.
Devy mengatakan getah biduri bisa "diperas" dari semua bagian tanaman, yakni akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Namun, dalam penelitian mereka, getah dari pucuk batang yang paling bagus dimanfaatkan.
Getah biduri dipilih karena mengandung saponin dan enzim protease yang mampu bekerja sebagai detergen alami. Saponin adalah jenis glikosida yang dapat membentuk buih dalam air serta dapat mengangkat kotoran dan menurunkan tegangan air. Sedangkan protease merupakan enzim yang dapat merombak protein. Enzim ini dapat membantu saponin membersihkan noda karena kemampuannya memecah protein yang merupakan salah satu komponen utama kotoran pakaian.
Bio-Nano Surf sudah diuji untuk mencuci noda cokelat pada kain dengan perendaman selama lima menit dan pengucekan selama satu menit. Hasilnya, kata Arham, Bio-Nano Surf terbukti mampu menyamai kemampuan detergen komersial.
Dari pengujian toksisitas dan nilai baku mutu limbah detergen untuk menguji tingkat biodegradable (kemampuan terurai di alam), diketahui nilai baku mutu limbah detergen getah biduri lebih rendah dari batas maksimum ketetapan baku mutu limbah pada detergen komersial sehingga Bio-Nano Surf lebih aman bagi lingkungan.
Sakit akibat terserang flu (ilustrasi) REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang akan memperbanyak konsumsi vitamin C saat terserang influenza. Tapi sebenarnya, mengonsumsi vitamin C bukanlah cara untuk menghentikan flu. Vitamin C hanya menguatkan imun tubuh dan mempersempit durasi sakit flu. Jika orang biasa sembuh flu dalam waktu 7 hari, seseorang yang terbiasa memakan makanan yang mengandung Vitamin C umumnya akan sembuh lebih cepat dari orang biasa. “Ya katakanlah 2-3 hari dia sudah sembuh dari flu. Vaksin yang diberikan dokter juga biasanya punya fungsi sama (mempersempit durasi sakit),” ujar Dr. Lula Kamal di acara 'Melegakan Gejala Batuk dan Pilek untuk Si Kecil dan #BayiGede', Rabu, di Jakarta. Dokter yang membintangi beberapa judul sinetron ini juga mengatakan, tidak ada makanan khusus yang harus dikonsumi seseorang yang terserang flu. Hanya disarankan menghindari makanan yang membuatnya tidak nyaman. Pengidap penyakit flu juga harus memperbanyak min...
Komentar
Posting Komentar