Langsung ke konten utama

Anjing Mengenali Spesiesnya Sendiri di Antara Gambar-gambar Spesies Lain di Layar Komputer

 

Sabtu, 16 Februari 2013 - Anjing-anjing itu mampu membentuk kategori visual wajah anjing, bahkan termasuk gambar kelompok anjing yang sangat berbeda.


Anjing mampu memilih wajah-wajah anjing lain di antara wajah-wajah manusia, hewan domestik dan hewan liar lainnya, serta dapat mengelompokkan wajah-wajah tersebut ke dalam kategori tersendiri, terlepas dari apa pun ras anjing yang ditunjukkan. Yang mengejutkan, anjing melakukan hal tersebut hanya dengan menggunakan isyarat visual.

Inilah hasil temuan studi terbaru yang dilakukan Dr. Dominique Autier-Derian bersama para koleganya. Studi ini menjadi yang pertama dalam menguji kemampuan anjing untuk membedakan antar spesies dan membentuk kategori “anjing” terlepas dari besarnya variabilitas dalam spesies anjing, serta dipublikasikan secara online dalam jurnal Springer, Animal Cognition.

Beberapa individu dari spesies yang sama berkumpul dalam satu habitat untuk kehidupan sosial. Proses berkumpul ini menuntut pengakuan kesetaraan antar individu, baik dalam hal kesamaan spesies maupun kelayakan dalam kelompok tertentu. Penelitian hingga saat ini menunjukkan bahwa pada beberapa spesies, individu-individunya bisa saling mengenal dengan lebih mudah, atau lebih tertarik pada gambar individu dari spesies yang sama dibanding gambar individu dari spesies lain.

Peralatan. a,b Anjing duduk di depan pengamat, tepat pada satu garis di antara 2 layar. c Saat mendengar perintah, anjing menentukan pilihannya dengan menghampiri layar tertentu dan menempatkan kakinya di depan gambar yang ia pilih. (Kredit: Springer Science+Business Media)

Autier-Derian beserta timnya menyelidiki fenomena ini di antara anjing domestik, hewan yang diketahui memiliki keragaman morfologis terbesar di antara semua spesies hewan. Tim riset meneliti apakah besarnya keragaman morfologi ini menghadirkan tantangan kognitif bagi anjing dalam mencoba mengenali spesies mereka sendiri saat dihadapkan pula pada spesies lainnya, dengan hanya menggunakan isyarat visual.

Pada sembilan ekor anjing, para peneliti memperlihatkan beberapa gambar wajah anjing domestik dari berbagai ras dan lintas-keturunan melalui layar komputer, lalu secara simultan disertai dengan wajah spesies-spesies hewan lainnya, termasuk manusia. Sembilan ekor anjing ini dihadapkan pada stimulus yang beragam, berupa gambar-gambar wajah anjing, wajah dari 40 spesies selain anjing, meliputi hewan domestik maupun liar, serta gambar-gambar wajah manusia.

Secara keseluruhan, anjing-anjing ini diharapkan untuk memilih lebih dari 144 pasang gambar pada layar komputer. Selama proses berlangsung, para peneliti mengamati apakah kesembilan ekor anjing ini bisa membedakan semua spesies anjing dengan spesies lainnya, dan bisa mengelompokkan semua anjing tersebut, apa pun rasnya, ke dalam satu kategori.

Hasil percobaan menunjukkan seperti yang diharapkan; anjing-anjing itu mampu membentuk kategori visual wajah anjing, bahkan termasuk gambar kelompok anjing yang sangat berbeda, lalu mengumpulkannya ke dalam satu kategori sekalipun terdapat begitu banyak keragaman ras anjing yang harus dipilih.

Sembilan ekor anjing yang dilibatkan dalam studi – tujuh ekor ras murni dan tiga ekor ras campuran. Kesemua anjing ini adalah peliharaan tim riset.(Kredit: Springer Science+Business Media)

Dari fenomena yang ditemukan, para peneliti menyimpulkan: “Fakta bahwa

 

anjing mampu mengenali spesiesnya sendiri secara visual, dan bahwa mereka memiliki kapasitas diskriminatif penciuman yang hebat, memastikan bahwa perilaku sosial dan perkawinan antar ras yang berbeda masih berpotensi dilakukan. Meskipun manusia telah memperlebar spesies keluarga Canis ke dalam batas-batas morfologisnya, namun entitas biologisnya masih tetap terlestarikan.”

http://www.faktailmiah.com/2013/02/16/anjing-mengenali-spesiesnya-sendiri-di-antara-gambar-gambar-spesies-lain-di-layar-komputer.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vitamin C tak Sembuhkan Flu, Benarkah?

  Sakit akibat terserang flu (ilustrasi)   REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang akan memperbanyak konsumsi vitamin C saat terserang influenza. Tapi sebenarnya, mengonsumsi vitamin C bukanlah cara untuk menghentikan flu.  Vitamin C hanya menguatkan imun tubuh dan mempersempit durasi sakit flu. Jika orang biasa sembuh flu dalam waktu 7 hari, seseorang yang terbiasa memakan makanan yang mengandung Vitamin C umumnya akan sembuh lebih cepat dari orang biasa. “Ya katakanlah 2-3 hari dia sudah sembuh dari flu. Vaksin yang diberikan dokter juga biasanya punya fungsi sama (mempersempit durasi sakit),” ujar Dr. Lula Kamal di acara 'Melegakan Gejala Batuk dan Pilek untuk Si Kecil dan #BayiGede', Rabu, di Jakarta.  Dokter yang membintangi beberapa judul sinetron ini juga mengatakan, tidak ada makanan khusus yang harus dikonsumi seseorang yang terserang flu. Hanya disarankan menghindari makanan yang membuatnya tidak nyaman. Pengidap penyakit flu juga harus memperbanyak min...

Perbandingan TV Tabung, Plasma, LCD, dan LED TV

TV melalui perkembangannya yang beragam, mulai mengutamakan sisi ukuran, kualitas gambar, dan mulai peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dimulai dari maraknya TV Tabung, lalu berkembang menjadi Plasma TV, hingga kini yang banyak beredar di pasaran modern seperti LCD TV dan LED TV dengan ukurannya yang tipis. Bahkan, memiliki TV di rumah atau di kantor sudah merupakan suatu kebutuhan hiburan yang mendasar bagi Anda saat ini. Namun, tahukah Anda perbedaan dari tiap jenis TV tersebut? Tabel Perbandingan TV Tabung, Plasma TV, LCD TV, dan LED TV Fitur TV Tabung Plasma TV LCD TV LED TV Harga Paling rendah Rendah Tinggi Paling Tinggi Lebar Sudut Pandang Baik Baik Kurang Baik Paling Baik Ukuran Berat, tebal & besar Berat, tebal & besar Ringan & tipis Paling ringan & paling tipis Keawetan Tahan lama Tahan lama Sedang Sedang Daya Listrik Boros Boros Hemat Paling Hemat Refresh & Response Rate Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Kualitas Gambar & Warna Sedang Sedang B...

Mengapa Mie Instan dapat Mempersingkat Hidup Anda

  Mie instan Ternyata mie instan, makanan murah yang digemari banyak anak kost dan para pecinta mie di mana pun berada, dikaitkan dengan serangan jantung dan diabetes. Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Nutrition menemukan bahwa produk-produk mie instan dapat meningkatkan risiko sindrom kardiometabolik  - faktor risiko penyakit kardiovaskular dan stroke yang parah - khususnya bagi perempuan. “Penelitian ini penting karena banyak orang yang mengonsumsi mie instan tanpa mengetahui kemungkinan risikonya terhadap kesehatan,” ungkap pemimpin peneliti Hyun Joon Shin, MD, dalam siaran pers. Shin, salah seorang pakar kardiologi di Baylor University Medical Center sekaligus mahasiswa doktoral nutrisi epidemologi di Harvard School of Public Health, tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar lebih lanjut. Untuk penelitian tersebut, peneliti melihat data dari 10.711 orang dewasa berusia antara 19 hingga 64 tahun, yang dikumpulkan melalui perwakilan nasional Korean Nation...