Langsung ke konten utama

Tiga juta dolar untuk penelitian penyakit

 

Mark Zuckerberg dan Sergey Brin

Mark Zuckerberg dan Sergey Brin termasuk yang mendirikan Breakthrough Prize.

Sejumlah pengusaha internet memberikan hadiah terbesar dalam sejarah sains dengan jumlah US$3 juta untuk ilmuwan yang meneliti pengobatan penyakit.

Pendiri Klik Facebook Mark Zuckerberg bergabung dengan para petinggi di Google dan Apple untuk memberikan hadiah tahunan yang disebut Breaktrhough Prize (Penghargaan untuk Terobosan).

Sembilan penerima pertama tinggal di Amerika Serikat, dua dari Jepang dan Belanda.

Banyak hasil penelitian mereka tentang sel genetik terkait dengan penelitian untuk penyembuhan penyakit.

Cornelia Bargmann, salah seorang pemenang dari Universitas Rockefeller, mengatakan ia semula mengira hadiah itu adalah tipuan di internet.

"Jumlahnya sangat besar dan pengaruhnya akan luar biasa dalam dunia sains," kata Bargmann.

Selain Zuckerberg dan istrinya Priscilla Chan, sponsor lain termasuk Sergey Brin, salah seorang pendiri Google dan pengusaha Rusia, Yuri Milner.

Mulai tahun 2014, yayasan Breakthrough Prize akan memberikan hadiah sebesar US$3 juta setiap tahun kepada lima ilmuwan.

Tidak ada batasan umur atas pemberian hadiah ini dan pemenang sebelumnya tetap memungkinkan untuk mendapat hadiah lagi.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/02/130221_iptek_pengusaha_hadiah.shtml

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vitamin C tak Sembuhkan Flu, Benarkah?

  Sakit akibat terserang flu (ilustrasi)   REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang akan memperbanyak konsumsi vitamin C saat terserang influenza. Tapi sebenarnya, mengonsumsi vitamin C bukanlah cara untuk menghentikan flu.  Vitamin C hanya menguatkan imun tubuh dan mempersempit durasi sakit flu. Jika orang biasa sembuh flu dalam waktu 7 hari, seseorang yang terbiasa memakan makanan yang mengandung Vitamin C umumnya akan sembuh lebih cepat dari orang biasa. “Ya katakanlah 2-3 hari dia sudah sembuh dari flu. Vaksin yang diberikan dokter juga biasanya punya fungsi sama (mempersempit durasi sakit),” ujar Dr. Lula Kamal di acara 'Melegakan Gejala Batuk dan Pilek untuk Si Kecil dan #BayiGede', Rabu, di Jakarta.  Dokter yang membintangi beberapa judul sinetron ini juga mengatakan, tidak ada makanan khusus yang harus dikonsumi seseorang yang terserang flu. Hanya disarankan menghindari makanan yang membuatnya tidak nyaman. Pengidap penyakit flu juga harus memperbanyak min...

Perbandingan TV Tabung, Plasma, LCD, dan LED TV

TV melalui perkembangannya yang beragam, mulai mengutamakan sisi ukuran, kualitas gambar, dan mulai peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dimulai dari maraknya TV Tabung, lalu berkembang menjadi Plasma TV, hingga kini yang banyak beredar di pasaran modern seperti LCD TV dan LED TV dengan ukurannya yang tipis. Bahkan, memiliki TV di rumah atau di kantor sudah merupakan suatu kebutuhan hiburan yang mendasar bagi Anda saat ini. Namun, tahukah Anda perbedaan dari tiap jenis TV tersebut? Tabel Perbandingan TV Tabung, Plasma TV, LCD TV, dan LED TV Fitur TV Tabung Plasma TV LCD TV LED TV Harga Paling rendah Rendah Tinggi Paling Tinggi Lebar Sudut Pandang Baik Baik Kurang Baik Paling Baik Ukuran Berat, tebal & besar Berat, tebal & besar Ringan & tipis Paling ringan & paling tipis Keawetan Tahan lama Tahan lama Sedang Sedang Daya Listrik Boros Boros Hemat Paling Hemat Refresh & Response Rate Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Kualitas Gambar & Warna Sedang Sedang B...

Mengapa Mie Instan dapat Mempersingkat Hidup Anda

  Mie instan Ternyata mie instan, makanan murah yang digemari banyak anak kost dan para pecinta mie di mana pun berada, dikaitkan dengan serangan jantung dan diabetes. Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Nutrition menemukan bahwa produk-produk mie instan dapat meningkatkan risiko sindrom kardiometabolik  - faktor risiko penyakit kardiovaskular dan stroke yang parah - khususnya bagi perempuan. “Penelitian ini penting karena banyak orang yang mengonsumsi mie instan tanpa mengetahui kemungkinan risikonya terhadap kesehatan,” ungkap pemimpin peneliti Hyun Joon Shin, MD, dalam siaran pers. Shin, salah seorang pakar kardiologi di Baylor University Medical Center sekaligus mahasiswa doktoral nutrisi epidemologi di Harvard School of Public Health, tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar lebih lanjut. Untuk penelitian tersebut, peneliti melihat data dari 10.711 orang dewasa berusia antara 19 hingga 64 tahun, yang dikumpulkan melalui perwakilan nasional Korean Nation...