Langsung ke konten utama

Fakta Tentang Air

 

Seluruh mahluk hidup di permukaan Bumi ini tentu butuh air, berikut fakta tentang air yang layak kita simak.

  1. Air tidak berbau, tidak berasa, dan berbentuk cairan transparan pada temperatur kamar.

  2. Air meliputi 70% dari permukaan bumi, baik berbentuk air laut, sungai, danau dan gunung es.

  3. Sialnya, 97% air yang ada di bumi ini asin dan hanya 3% nya yang berbentuk air segar. Dengan jumlah populasi manusia 6,8 milyar (perkiraan wikipedia) di Bumi ini dan kebutuhan air untuk minum kita yang 2 liter perhari, berapa tahan air kalau tidak di hemat.

  4. Air bisa menghasilkan energi listrik. Diperkirakan 24% (sekitar 675.000 megawatt) dari kebutuhan listrik Dunia berasal dari tenaga air menurut National Renewable Energy Laboratory. Bandingkan dengan kapasitas listrik terpasang kita sekitar 24.700 megawatt

  5. 60 % lebih tubuh manusia terdiri dari air (berbeda menurut usia dan jenis kelamin). Dengan perincian 83% darah kita terdiri dari air, 70% otak kita terdiri dari air, dan 90% paru-paru kita terdiri dari air.

  6. Air dapat berubah bentuk. Membeku (dibawah nol derajat Celsius), berbentuk cairan di temperatur kamar, dan berbentuk uap padatemperatur 100 derajat Celsius keatas.

  7. Air juga berpengaruh terhadap iklim di permukaan bumi

Sumber: witcombe, ga.water.usgs

http://berita-iptek.blogspot.com/2010/05/fakta-tentang-air.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vitamin C tak Sembuhkan Flu, Benarkah?

  Sakit akibat terserang flu (ilustrasi)   REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang akan memperbanyak konsumsi vitamin C saat terserang influenza. Tapi sebenarnya, mengonsumsi vitamin C bukanlah cara untuk menghentikan flu.  Vitamin C hanya menguatkan imun tubuh dan mempersempit durasi sakit flu. Jika orang biasa sembuh flu dalam waktu 7 hari, seseorang yang terbiasa memakan makanan yang mengandung Vitamin C umumnya akan sembuh lebih cepat dari orang biasa. “Ya katakanlah 2-3 hari dia sudah sembuh dari flu. Vaksin yang diberikan dokter juga biasanya punya fungsi sama (mempersempit durasi sakit),” ujar Dr. Lula Kamal di acara 'Melegakan Gejala Batuk dan Pilek untuk Si Kecil dan #BayiGede', Rabu, di Jakarta.  Dokter yang membintangi beberapa judul sinetron ini juga mengatakan, tidak ada makanan khusus yang harus dikonsumi seseorang yang terserang flu. Hanya disarankan menghindari makanan yang membuatnya tidak nyaman. Pengidap penyakit flu juga harus memperbanyak min...

Perbandingan TV Tabung, Plasma, LCD, dan LED TV

TV melalui perkembangannya yang beragam, mulai mengutamakan sisi ukuran, kualitas gambar, dan mulai peduli terhadap kelestarian lingkungan. Dimulai dari maraknya TV Tabung, lalu berkembang menjadi Plasma TV, hingga kini yang banyak beredar di pasaran modern seperti LCD TV dan LED TV dengan ukurannya yang tipis. Bahkan, memiliki TV di rumah atau di kantor sudah merupakan suatu kebutuhan hiburan yang mendasar bagi Anda saat ini. Namun, tahukah Anda perbedaan dari tiap jenis TV tersebut? Tabel Perbandingan TV Tabung, Plasma TV, LCD TV, dan LED TV Fitur TV Tabung Plasma TV LCD TV LED TV Harga Paling rendah Rendah Tinggi Paling Tinggi Lebar Sudut Pandang Baik Baik Kurang Baik Paling Baik Ukuran Berat, tebal & besar Berat, tebal & besar Ringan & tipis Paling ringan & paling tipis Keawetan Tahan lama Tahan lama Sedang Sedang Daya Listrik Boros Boros Hemat Paling Hemat Refresh & Response Rate Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Kualitas Gambar & Warna Sedang Sedang B...

Mengapa Mie Instan dapat Mempersingkat Hidup Anda

  Mie instan Ternyata mie instan, makanan murah yang digemari banyak anak kost dan para pecinta mie di mana pun berada, dikaitkan dengan serangan jantung dan diabetes. Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Nutrition menemukan bahwa produk-produk mie instan dapat meningkatkan risiko sindrom kardiometabolik  - faktor risiko penyakit kardiovaskular dan stroke yang parah - khususnya bagi perempuan. “Penelitian ini penting karena banyak orang yang mengonsumsi mie instan tanpa mengetahui kemungkinan risikonya terhadap kesehatan,” ungkap pemimpin peneliti Hyun Joon Shin, MD, dalam siaran pers. Shin, salah seorang pakar kardiologi di Baylor University Medical Center sekaligus mahasiswa doktoral nutrisi epidemologi di Harvard School of Public Health, tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar lebih lanjut. Untuk penelitian tersebut, peneliti melihat data dari 10.711 orang dewasa berusia antara 19 hingga 64 tahun, yang dikumpulkan melalui perwakilan nasional Korean Nation...